Langsung ke konten utama

Siswi SMK Kencana Sakti Haumeni Soe Melakukan Kunjungan Ke Situs Cagar Budaya Benteng None.

Jurnalkensa-SOE Sumber bahan yang bisa di kembangkan, menjadi sebuah cerita, dan bahan dalam pemanduan wisata,  bisa di dapat dari berbagai sumber salah satunya adalah melalui pelaku sejarah.

Salah satu tujuan mengenalkan budaya objek wisata kepada peserta didik jurusan Usaha Perjalanan Wisata  SMK Kencana Sakti Haumeni Soe, melakukan kunjungan ke Objek Wisata  Cagar Budaya Benteng  None, yang berada di, RT 24 RW 06 Dusun 03 Desa Tetaf Kecamatan Kuatnana, kabupaten Timor Tengah Selatan, Senin, (27/09/21).

Dalam kunjungan ke Objek Wisata Cagar Budaya Benteng None, melibatkan 19 orang peserta didik yang hadir bersama guru pembimbing.


Selama kunjungan ke Objek Wisata, diisi dengan penjelasan yang di berikan oleh pengelola Cagar Budaya Benteng None, terkait dengan sejarah berdirinya Benteng None, kunjungan wisatawan lokal dan mancanegara, serta upaya promosi objek wisata itu sendiri.


Setiap peserta didik juga secara langsung berpartisipasi dalam menanyakan langsung kepada pengelola tempat Wisata Cagar Budaya  Benteng None yang dapat menambah wawasan kepada peserta didik.

Objek wisata Cagar Budaya Benteng None hingga sekarang masih tetap di jaga keaslian tradisi budaya yang tetap di pertahankan.

Pengelola Situs Cagar Budaya Benteng None, Anderias Tauho menjelaskan bahwa"benteng none ini awalnya terbentuk dari alam, budaya, dan sejarah, jadi alamnya seperti yang kita saksikan sekarang, kelihatannya sederhana, tetapi karena punya sejarah budaya dan alamnya masih tetap, jadi posisi benteng None ini seperti leter U, jadi sisi bagian timur, utara, barat jurang semua, cuma bagian belakang yang tidak , seperti yang tadi kita lewati" , ujar Anderias.

Dikatakan juga bahwa dalam benteng ini ada 3 tempat untuk memantau strategi berperang yang melambangkan sejarahnya serta untuk budaya kita punya keaslian tradisi budaya yang masih di pertahankan.

Lokasi situs cagar budaya Benteng None ini sangat bagus di kunjungi karena memiliki kearifan budaya lokal, serta tradisi yang menarik.

Salah satu siswi kelas XI Usaha Perjalanan Wisata, Diandra Maubanu ketika di wawancarai menjelaskan bahwa" tempat wisata ini sangat bagus, karena wisata ini memiliki budaya lokal, dan masyarakat sekitar sini juga mengakui budaya tersebut, dan mereka pun mengakui adat dan tradisi yang ada, selain itu juga disini ada lopo, yang melambangkan pemersatu"tandas Diandra.

Selanjutnya pada tempat yang sama juga, peserta didik yang hadir, mendengar penyampaian materi yang di bawakan oleh guru terkait dengan wisata.

Disini juga peserta didik bisa secara langsung belajar dan mendapat pengalaman terkait objek wisata dan praktek pemanduan wisata.

Sementara itu ketua Program Keahlian Usaha Perjalanan Wisata, Erni Manggi, S.Tr.Par, ketika di temui di tempat terpisah menjelaskan bahwa" untuk mengenalkan siswa siswi, dan pelestarian budaya, serta juga salah satu materi pembahasan pemanduan perjalanan wisata, supaya kedepan ketika ada wisatawan mancanegara, mereka bisa belajar, jadi seperti SMK itu siap kerja jadi lebih banyak mereka praktek,"ujar Erni 

Setelah selesai penyampaian materi oleh guru kepada peserta didik di tutup dengan pengambilan foto bersama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ujian kensa 2026

Web Ulangan Harian Online Sisa Waktu: 60:00 Ulangan Harian Online *PENTING: Membuka aplikasi lain atau pindah tab saat ujian berlangsung akan membuat soal tertutup otomatis! Pilih Kelas Kelas X-A Kelas X-B Kelas XI-A MULAI UJIAN Memuat…

CERITA RAKYAT "FATU ATONIS" OLEH : THOMAS E.KABU

Pada zaman dahulu di kerajaan Amanatun tepatnya di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), berkuasalah seorang raja yang bernama Usif Banmeni. Usif Banmeni mempunyai banyak sapi, kuda dan kambing. Diantara sekian banyak ternak, terdapat dua orang gembala yang bernama Neno dan Fai. Tugas khusus Neno dan Fai adalah menggembalakan kambing-kambing milik Usif Banmeni tersebut. Pada suatu hari, beberapa ekor kambing yang digembalakan oleh Neno dan Fai hilang. Neno dan Fai masuk hutan keluar hutan mencari kambing-kambing itu. Lalu mereka tiba pada sebuah sungai yang bernama sungai Tumut (Noe Tumut). Sungai (Noe) tersebut merupakan batas alam antara Desa Lilo, Kecamatan Amanatun Utara dengan Desa Oeleu, Kecamatan Toianas. Setelah menyeberangi sungai itu, turunlah hujan yang amat deras. Kilat dan halilintar sambung-menyambung seakan-akan membelah bumi. Mereka mulai merasa dingin, lapar dan ketakutan. Didalam kegelapan senja itu nampaklah sebuah rumah bulat (Ume Kbubu). Rumah bulat (Um...

"SMK Kencana Sakti Haumeni Melaksanakan Seminar Kasus".

Jurnalkensa- Kapan Sebagai salah satu bentuk penerapan antara program pendidikan di sekolah dengan penguasaan program keahlian yang di peroleh maka di lakukan Praktek Sistem Ganda bagi siswa SMK. Sebagaimana pada saat melaksanakan  Praktek Sistem Ganda ini, setiap peserta didik, di harapkan mampu melaksanakan setiap kompetensi keahlian yang menjadi dasar bagi peserta didik tersebut. Pengalaman-pengalaman yang di dapat oleh peserta didik pada saat melaksanakan Praktek Sistem Ganda bisa menjadi sebuah informasi yang baik untuk bisa di terapkan Bertempat di Puskesmas Kapan, sebanyak 14 orang dari gelombang pertama, yang melaksanakan Praktek Sistem Ganda selama 2 Minggu, membuat seminar kasus yang di presentasikan di depan Kepala Puskesmas, Pembimbing dari sekolah serta peserta Praktik Sistem Ganda yang hadir untuk mengikuti seminar kasus tersebut, Jumat, (23/07/21), bertempat di Ruang Aula Puskesmas tersebut. Presentasi yang di laksanakan ini dengan tetap menerapkan Protok...